Kesenian Klasik Mengusik Masyarakat Masa Kini

Seni pertunjukan klasik Bali kini makin terpinggir. Misalnya, Wayang Wong makin sulit dijumpai pementasannya. Bahkan salah satu seni karawitan Bali yang disebut Gambang sudah menuju kepunahannya. Beberapa bentuk seni klasik tradisional Bali yang lainnya hidup segan mati pun pasrah. Sebagian masyarakat pendukungnya makin tak hirau pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ekspresi seni klasik itu. Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan seni klasik Bali yang sedang merana itu, Pesta Kesenian Bali ke-32 tahun 2010 ini memberikan porsi cukup luas bagi tampilnya seni klasik.

Penyelamatan dan aktualisasi terhadap bentuk-bentuk seni klasik sudah sepatutnya diapresiasikan. Sebab, seni klasik tidak hanya merupakan kristalisasi estetik suatu rentangan zaman namun juga sarat makna kultural. Kini, di tengah laju trasformasi budaya, keberadaan seni klasik sebagai formulasi artistik kian redup dan sebagai pencatat makna budaya kurang dipedulikan. Perubahan budaya sebagai imbas dinamika kehidupan, berkontribusi besar pada cara pandang, pola berpikir, sikap hidup masyarakat, termasuk pada sikap masyarakat Bali masa kini dalam berinteraksi dengan keseniannya.Read more

Belakangan, bentuk-bentuk kesenian yang telah mengisi dinamika kehidupan masyarakat terdahulu kian terpinggirkan dan pencapaian estetik yang pernah diraihnya tak terurus, fungsi-fungsi sosial dan religius yang sempat diisinya terkikis. Begitu pula makna-makna kultural dan filosofis yang dulu mengawalnya terpental entah ke mana. Kesenjangan bentuk-bentuk kesenian itu dengan generasi muda, makin lebar. Orientasi masyarakat kita di tengah gelombang globalisasi yang cenderung materialis-kapitalistik,  membuat butir-butir budaya itu tergelincir.

Sejatinya, seni klasik merupakan mata air yang mengalirkan dahaga berkreasi. Kontinuitas pelestarian dan pengembangan kesenian di Bali lazimnya berorientasi pada nilai-nilai estetika dan konsep-konsep artistik dari kesenian klasik yang telah teruji zaman tersebut. Kesenian klasik yang menyimpan nilai estetik nan luhur,  lebih-lebih yang telah terpuruk langka, patut digali, direkonstruksikan, direvitalisasikan, dan dibanggakan di tengah lingkungan komunitasnya serta dalam publik lebih luas seperti PKB.

Sumber: http://www.cybertokoh.com/index.php?option=com_content&task=view&id=973&Itemid=61

Categories: kesenian Bali | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: